Tampilkan postingan dengan label PERSPEKTIF. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PERSPEKTIF. Tampilkan semua postingan

Angeline, Cermin Buram Bahasa Kasih

Saliem Sabendino

Angeline, tidak jahat. Angeline, bukan penjahat. Mengapa Angeline dibunuh?
Angeline, adalah sebuah drama kematian, kemudian melahirkan drama-drama lain yang saling mematikan. Angeline bukan penjahat, dia bukan begal, bukan rampok, bukan koruptor dan bukan pengedar narkoba.
Lalu mengapa ia dibunuh? Angeline sepanjang waktu dijauhi teman hanya karena bau kotoran ayam, dan kemudian mati dilempar, diinjak, dibenamkan pula di bawah kandang ayam. Angeline yang dikabarkan hilang kemudian ditemukan bersama kabar duka yang menyeruak dari baliksampah-sampah dan kotoran ayam.
Sebuah skenario pembunuhan yang sempurna, membuat siapapun begidik dan miris ketika menyimaknya. Namun Angeline hanya salah satu kisah yang kemudian  dibicarakan dari sekian jumlah kejahatan orang tua terhadap anak-anak yang terdiam begitu saja.
Dari berbagai cerita kejahatan yang melibatkan orang tua dan anak-anak tentunya dapat menimbulkan sebuah kesimpulan yang dapat disepakati bahwa proses penghargaan dan kepercayaan terhadap anak-anak jauh dari bahasa kasih. Kisah serupa secara laten terjadi dari waktu ke waktu.
Drama pilu Angeline dan fenomena J.I.S adalah kejadian yang masih menyisakan bekas yang jelas. Hal ini bukan semata persoalan drama kriminal semata.  Akan tetapai persoalan tipisnya perhatian, penghargaan dan kepercayaan terhadap anak-anak menjadi babak yang tersirat di dalamnya.
Coba kita hitung secara ngawur saja, seberapa sering kita menjumpai seorang ibu yang dengan santai menggandeng anak balitanya sementara pandanganya fokus pada gadget yang ada ditangan satunya lagi atau pada shop display sebuah swalayan. Kemudian seorang guru yang asyik ber_catting ria sementara puluhan siswa di hadapanya sedang seksama mengerjakan tugas yang diberikanya.
Dari sini kemudian bisa menemukan sebuah cermin buram yang bila dilihat dengan seksama ada sebuah bayangan utuh yang sama mirisnya dengan wajah tragedi kematian Angeline. Ada ribuan bahkan jutaan Angeline yang sejatinya hidup tanpa penghargaan, tanpa perhatian dan tanpa kepercayaan. Mereka hidup tapi sebenarnya dimatikan.
Setiap anak hidup butuh perhatian dan perlakuan khusus dari lingkungannya untuk membangun rasa percaya dirinya. Tanpa perhatian dan kepercayaan khusus seorang anak tidak mungkin menemukan kepercayaan dirinya. Membangun kepercayaan diri pada anak-anak untuk menuju masa selanjutnya bukan pekerjaan magic. Bim salabim berubah...!! lantas berubahlah kepribadian anak tersebut.
Perhatian khusus yang dibutuhkan dalam membangun mentalitas seorang anak adalah dalam hal kesabaran dalam mendidiknya. Dan hal ini yang sering kali dilupakan oleh orang-orang tua terhadap anak-anak.
Penerapan kesabaran terhadap seorang anak harus dibedakan dengan perlakuan sabar dengan orang yang lebih dewasa. Penerapan kesabaran terhadap anak-anak harus mendapat porsi ganda, karena secara mental seorang anak masih sangat rentan dengan persinggungan terhadap gejolak dilingkunganya. Dan hal ini sangat memungkinkan menimbulkan trauma yang akan membekas dan berpengaruh besar terhadap proses perkembangan kejiwaan anak tersebut.
Akan tetapi dalam persoalan kesabaran justru berlaku sebaliknya. Kesabaran terhadap usia kanak-kanak justru lebih sering dikorting. Atau dengan kata lain batas kesabaran dipersempit. Artinya orang yang lebih dewasa akan lebih mudah meluapkan kemarahanya terhadap anak-anak. Dan yang lebih fatal lagi kemarahan tersebut terkadang diluapkan dihadapan umum.
Hal ini terjadi begitu saja seakan di luar kesadaran orang-orang tua, atau dengan kata lain hal ini menjadi hal yang lumrah dan disepakati. Akan dianggap biasa ketika orang tua memarahi seorang anak yang tanpa sengaja memecahkan vas bunga. Dan hal tersebut begitu entengnya dilakukan ditengah banyak orang atau di tengah anggota keluarga lainya.
Dari sini kemudian dapat kita tarik benang merah bahwa banyak sekali para orang tua yang hadir didepan anak-anaknya secara hitungan usia belaka. Banyak yang gagal hadir sebagai orang tua secara mental dan jiwa.
Kita lebih sering dipandang dan dipahami sebagai orang tua, dengan melupakan bahwa ada masa lain yang perlu kita pahami dan kita mengerti ada dihadapan kita. Yakni, masa kanak-kanak yang penuh keriangan, kegembiraan dan keingin mengertian. Sehingga sering kali kita berkehendak mereka harus seperti kita, atau bahkan mereka adalah kita.
Hal semacam ini akan berpengaruh sangat kuat dengan perkembangan mental anak tersebut. Karena setiap anak akan hidup dan berkembang seiringan dengan lingkungan sekitarnya. Anak-anak akan berlaku dan berbicara dengan bahasa lingkunganya. Dalam teori psycho analisa Sigmund Frued mengatakan bahwa seorang anak akan mempelajari bahasa ibunya kemudian digunakan untuk berkomunikasi dengan lingkunganya.
Dalam teori gross ini Frued mengatakan bahwa pada perkembangan selanjutnya lingkungan akan memberi pengaruh yang begitu kuat terhadap bahasa seorang anak.
Kemudian jika kita berkaca dengan drama kematian Angeline maka timbulah sebuah tanda tanya besar akan perwujudan bahasa kasih para orang tua/orang yang lebih tua terhadap anak. Selanjutnya apakah kita akan berdebat panjang tentang ini salah siapa? Dan tidak pernah merenungi tentang benarnya bagaimana? Dosa-dosa kecil yang terbiasa kita maklumkan, kita wajarkan dan kita sepakati sebagai sesutu yang layak suatu saat pasti akan menjadi rangkuman kisah yang lebih tragis lagi.
Angeline, fenomena JIS atau tragedi Tiara di makasar, si malaikat kecil yang setiap hari menjadi penjual kue dan tukang parkir harus meregang nyawa ditangan ayah kandungnya sendiri. Semua itu sebenarnya bukan dongeng untuk menakut-nakuti anak-anak agar menurut sepenuhnya terhadap orang tua. Akan tetapi semoga kisah itu menjadi cermin bagi para orang tua untuk memahami dunia anak-anak dan apa yang seharusnya dibutuhkan oleh anak-anak untuk membangun kehidupanya kedepan.
Angeline, tidak jahat. Angeline, bukan penjahat. Mengapa Angeline dibunuh?
Saliem Sabendino, praktisi seni dan penggiat teater


Ada Apa dengan PAUD di Indonesia?


"What's Wrong with The Early Childhood Education in Indonesia?" Begitu judul acara seminar kecil bersama Profesor Sandralyn Byrnes dari Royal Tots Academy yang digelar saat event Giggle Playgroup Day 2011, gelaran Miniapolis & Giggle Management, Jumat, 11 Februari 2011.
Apa yang salah dengan pendidikan anak usia dini di Indonesia? Saat ini sudah ada begitu banyak lembaga-lembaga pendidikan anak usia dini yang berdiri di Indonesia, khususnya di kota-kota besar. Mulai dari yang bersertifikasi internasional, berlatar agama, hingga lainnya. Begitu banyaknya penawaran dan embel-embel tersebut, tak heran orangtua kebingungan harus memilih yang mana yang tepat untuk anak.
Selama 7 tahun meriset dan mencari tahu mengenai proses pendidikan anak usia dini di Indonesia, Byrnes menemukan beberapa hal yang mengganjal. "Pertama, pendidikan anak usia dini tidak memiliki kurikulum yang universal," ungkap Byrnes yang merupakan kepala sekolah Royal Tots Academy, Kuningan, Jakarta.
Tidak adanya standar universal membuat begitu banyak sekolah untuk anak usia dini yang bermunculan. "Belum ada yang membuat batasan, di usia anak sekian, ia harus sudah bisa melakukan apa saja. Jadi, beda sekolah, beda standar. Padahal tak sedikit yang menggunakan embel-embel 'internasional'. Embel-embel tersebut ternyata tidak menjadi jaminan kualitasnya," papar Byrnes yang diberi gelar sebagai Australia's & International Teacher of the Year.
"Namun, pada umumnya, kita semua tahu bahwa pendidikan anak usia dini itu penting, karena di usia inilah anak membentuk pendidikan yang paling bagus. Di usia inilah anak-anak harus membentuk kesiapan dirinya menghadapi masa sekolah dan masa depan. Investasi terbaik yang bisa Anda berikan untuk anak-anak adalah persiapan pendidikan mereka di usia dini," terang Byrnes yang berasal dari Australia ini.
Lebih lanjut, Byrnes mengungkapkan salah satu hal yang membuatnya kecewa adalah sering terjadi power struggle (tarik-ulur kekuatan) antara anak dengan gurunya. Ini bisa menjadi indikasi bahwa kurikulum atau cara guru mengajar membuat anak tidak merasa kerasan. Seharusnya sumber daya pengajar memiliki pengetahuan bagaimana cara menghadapi anak-anak, karena setiap anak berbeda.
Menurut Byrnes, beberapa lembaga pendidikan usia dini yang ia datangi di Indonesia tidak konsisten. Bahkan, beberapa sekolah anak usia dini yang ia temui memperbolehkan pengasuhnya ikut ke dalam kelas.
"Buat saya, pengasuh mengambil alih otoritas orangtua. Saya tidak menyarankan pengasuh ke dalam ruang kelas. Ada alasannya. Anak-anak harus belajar mandiri. Saya pernah melihat dalam kelas ada seorang anak yang selalu dipangku pengasuhnya. Begitu guru mengajaknya belajar, ia malah memeluk pengasuh dan menolak diajak guru. Artinya, mereka tidak berani melakukan sesuatu. Anak-anak usia dini seharusnya pengambil risiko," terang Byrnes.
Byrnes mengungkap kembali bahwa saat ini pendidikan anak usia dini di Indonesia belum merata, bahkan sertifikasinya pun tidak menjadi jaminan. "Jika Anda mau pendidikan yang terbaik untuk anak-anak, maka pencarian sekolah pendidikan anak usia dini menjadi pekerjaan rumah terpenting para orangtua. Cari dengan hati-hati, jangan tergesa-gesa," sarannya.
Perlu diketahui lagi, ungkap Byrnes, pendidikan anak usia dini di Indonesia tidak sama, karena tidak disubsidi pemerintah seperti kebanyakan negara lain. "Karena itu, lihatlah uang sekolah untuk anak di usia dini sebagai investasi. Ketahuilah bahwa proses pendidikan anak tidak dimulai dari sekolah dasar, tetapi dari 18 bulan," ungkap Byrnes.
Yang jadi masalah di lembaga pendidikan anak usia dini di Indonesia, tegas Byrnes, adalah kurangnya pelatihan guru-guru agar terus menjadi lebih baik, tak adanya kerjasama antara sekolah dengan orangtua, dan kurang kerjasama dengan lembaga-lembaga pendidikan anak usia dini lainnya. (Sumber: http://paud.kemdikbud.go.id)

Penanganan Terhadap Anak Berkebutuhan Khusus


Yulina Eva Riany

TIDAK dapat dipungkiri, pengasuhan anak berkebutuhan khusus (ABK) memerlukan tambahan energi, pemikiran, serta biaya yang lebih tinggi dibanding mengasuh anak-anak pada umumnya. Beberapa penelitian menunjukkan, orang tua yang memiliki ABK, memiliki tingkat stress yang lebih tinggi dalam kehidupan sehari-harinya, khususnya orang tua bagi anak penyandang autisme.
Penelitian menunjukkan, tingkat stress dan depresi orang tua sehari-hari yang tertinggi di antara orangtua ABK lainnya, seperti down syndrome, gangguan mental, dan lain sebagainya (Baker-Ericzen, 2005; Weiss, 2002).
Ini disebabkan banyaknya energi dan sum berdaya yang harus dikeluarkan dalam menangani ABK dalam pengasuhan sehari-hari. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, jumlah ABK pada 2007 mencapai 8,3 juta jiwa dari 82.8 juta populasi anak di Indonesia. Angka ini terus meningkat seiring peningkatan jumlah populasi anak di setiap tahunnya.
Tingkat stress yang tinggi tidak hanya dapat membahayakan kondisi mental orang tua, lebih jauh hal ini dapat menjadi penyebab utama timbulnya gangguan kesehatan maupun terjadinya perpecahan dalam keluarga.
Tak jarang orang tua yang tidak dapat melakukan coping strategy terhadap situasi dan kondisi ini, pada akhirnya memasrahkan anaknya kepada lembaga penanganan ABK, yang seringkali memiliki biaya tinggi dengan model penanganan yang tidak sesuai dengan kasus gangguan yang dialami.
Melihat fenomena ini, setidaknya terdapat tiga strategi yang biasa diadopsi oleh masyarakat di negara-negara maju dan berkembang seperti Australia (Ros & Cuskelly, 2006), China (Chen & Silbereisen, 2010), dan Iran (Assadi, 2011).
Pertama, penguatan kondisi mental orangtua. Strategi ini membutuhkan peran aktif orang tua dalam melakukan pengasuhan ABK. Beberapa strategi yang dibutuhkan oleh orang tua ABK di antaranya perlu menyediakan waktu untuk dirinya sendiri, bekerjasama dalam pengasuhan dengan pasangan, dan aktif dalam mencari informasi mengenai ABK.
Orang tua perlu menyediakan waktu untuk dirinya sendiri, sebagai bentuk apresiasi terhadap diri sendiri yang sudah menyediakan waktu ekstra dan tenaga sehari-hari untuk mengasuh ABK. Misalnya, menyempatkan waktu bersosialisasi atau menyalurkan hobi pribadi merupakan cara-cara sederhana yang terbukti mampu menekan tingkat stres orang tua ABK.
Selain itu, perlunya berbagi dan bekerjasama dengan pasangan dalam pengasuhan sehari-hari. Penelitian menunjukkan, kerjasama pasangan suami-istri dalam pengasuhan ABK dapat menurunkan tingkat stress orang tua sebesar 60 persen (Kuhaneck, 2010).
Komitmen dan upaya saling mendukung antara pasangan dapat menguatkan mental mereka dalam menghadapi berbagai persoalan dalam pengasuhan ABK. Selain itu, orang tua juga harus aktif mencari informasi mengenai wawasan seputar ABK. Informasi ABK dapat diperoleh di rumah sakit, konsultan kesehatan, maupun ahli pendidikan anak berkebutuhan khusus. Upaya aktif ini diperlukan untuk membantu orang tua memahami dan mencari alternatif solusi dalam penanganan ABK sehari-hari.
Dukungan Sosial
Masih ada beberapa strategi lain yang bisa dilakukan dalam menangani ABK. Strategi kedua, adanya dukungan sosial yang memadai. Dukungan sosial memegang peranan luar biasa bagi keberlangsungan pengasuhan ABK.
Dukungan sosial dapat berupa dorongan moral, yang menguatkan dari masyarakat sekitar maupun keluarga terdekat. Melalui dukungan sosial, diharapkan orang tua ABK dapat berbagi pengalaman tentang pola asuh ABK. Hal ini belum banyak terlihat di lingkungan masyarakat kita, mengingat masih kuatnya kepercayaan bahwa memiliki ABK merupakan “karma” dari Tuhan. Sehingga, kecenderungan yang ada keluarga dengan ABK cenderung “dikucilkan” masyarakat.
Untuk menghapus kecenderungan ini, perlu peran pemerintah untuk memberikan edukasi kepada masyarakat umum tentang ABK. Edukasi ini dapat disampaikan melalui jalur media atau pos-pos pelayanan masyarakat untuk menyentuh masyarakat di areapinggiran atau pedesaan.
Ketiga, peran aktif pemerintah menyediakan pelayanan kesehatan dan konsultasi yang dapat dijangkau masyarakat. Ini, bahkan merupakan faktor yang sangat vital bagi masyarakat umum, terutama bagi mereka yang berada pada kelas sosial menengah ke bawah. Tidak dapat dimungkiri, pelayanan konsultasi dan kesehatan masih merupakan barang mahal. Apalagi konsultasi terkait dengan kebutuhan khusus yang  masih dianggap kebutuhan tersier.
Dengan demikian, masyarakat yang memiliki ABK cenderung “menyembunyikan” anak mereka di rumah ketimbang harus menghabiskan banyak biaya berkonsultasi, karena secara nyata masyarakat paham, kondisi tersebut merupakan gangguan permanen yang tidak dapat disembuhkan. Dengan menyediakan konsultasi ABK yang mudah dijangkau masyarakat, diharapkan ABK dapat mendapat pelayanan konsultasi yang mudah dan murah.
Pemerintah pun, harus menyediakan fasilitas penanganan ABK secara terpadu. Saat ini, pemerintah sudah memberikan perhatian kepada ABK melalui pembentukan Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa (PSLB) di bawah koordinasi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Direktorat PSLB saat ini juga telah melakukan beberapa program penanganan ABK melalui pemberian beasiswa maupun penyediaan sekolah luar biasa (SLB). Namun, apabila kita menelaah kembali tujuh kriteria penggolongan ABK yang telah ditetapkan pemerintah per 2006, terdapat beberapa kriteria ABK yang tidak terdapat pada penggolongan tersebut, seperti autisme, gangguan pervasif, gangguan, belajar dan gangguan intelektual.
Akhirnya, penanganan ABK di masyarakat sering tidak sinkron dengan kasus yang terjadi. Bahkan penanganan di SLB-SLB cenderung menggabungkan seluruh gangguan dalam satu program yang jelas memiliki perbedaan fokus. Karena itu, pemerintah perlu memperkuat program dan sumber daya dalam penanganan ABK di masyarakat.
Sudah saatnya bangsa Indonesia mencurahkan perhatian kepada ABK yang saat ini masih menjadi masyarakat kelas dua dalam agenda pelayanan publik. ABK merupakan bagian dari generasi bangsa yang patut mendapatkan hak dan perhatian yang setara dengan anak-anak pada umumnya, agar ke depan, ABK juga bisa berkontribusi bagi pembangunan bangsa. (Sumber: kompi.org)

Yulina Eva Riany,
Mahasiswa Doktoral Bidang Psikologi Pendidikan dan Rehabilitasi dan Kesehatan Anak di The University of Queensland, Australia, juga Dosen Ilmu Keluarga dan Konsumen, Institut Pertanian Bogor (IPB)


KH. Hasyim Asy’ari Tentang Pendidikan Anak

SEORANG kiai besar sekaligus pendiri Nahdlatul Ulama (NU), KH. Hasyim Asy’ari, memiliki kisah menarik tentang pentingnya pendidikan terhadap anak. Bagaimana anak di masa depan, salah satunya karena faktor pendidikan yang diterima sejak kecil.
Dalam sebuah sya’ir disebutkan: ‘’Belajar di waktu kecil bagai mengukir di atas batu, sedang belajar setelah dewasa, bagai mengukir di atas air’’. Artinya, anak-anak akan cepat mencerna sebuah pelajaran, sementara orang yang sudah dewasa, banyak godaan dalam belajar.

Wanita dan Senjakala Peradaban Bangsa


Saliem Sabendino

"Berilah pendidikan kepada bangsa kita, berilah pendidikan hati dan pikiran kepada wanita, nanti mereka akan menjadi peserta dalam menunaikan tugas suci, peradaban rakyat kita yang berjuta-juta, berikanlah ibu-ibu yang tegas dan bijaksana, maka kemajuan bangsa hanya soal waktu saja“

Demikian beberapa larik kalimat petikan dari cita- cita luhur Kartini tentang pendidikan bangsa terutama kaum wanita yang termaktub dalam buku “VAN DUISTERNIS TOT LICHT“ (kumpulan surat yang Kartini tulis pada tahun 1899-1904) yang selanjutnya diterjemahkan Armin Pane dalam Habis Gelap Terbitlah Terang.
Dalam pandangan dan cita-cita Kartini tersebut betapa jelas kalau Kartini memiliki keyakinan bahwa para wanita memiliki tugas suci dalam peradaban sebuah bangsa. Atau dengan kata lain peran ibu-ibu dalam sebuah bangsa adalah sebagai ibu peradaban.
Sebab tak dapat dipungkiri posisi para wanita dalam sebuah bangsa adalah sebagai penanda/ikon peradaban atau kebudayaan sebuah bangsa. Dimana setiap perubahan maupun perkembangan peradaban/kebudayaan akan ditandai oleh keadaan para wanita dari bangsa tersebut baik dari gaya hidup maupun pola pikir.

Perempuan, PAUD, dan Generasi Emas Indonesia

Oleh Abi Neira el-Qudsy

Perjalanan Indonesia sebagai bangsa dan negara, tidak hanya lahir dan berkembang berkat perjuangan para kaum adam saja. Perempuan, kaum hawa, juga ikut ambil bagian dalam gelombang perjuangan dan berperan membangun negeri.
Indonesia, sebagaimana di Amerika, Inggris, Cina, dan beberapa negara di Eropa, pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, muncul tokoh-tokoh gerakan–gerakan perempuan yang mulai memperjuangkan emansipasi dan keadilan sosial.
Frances S. Adeney dalam ‘’Spiritualitas Baru: Agama dan Aspirasi Rakyat’’ yang diterbitkan Institut Dian/Interfidei (1994) melalui kajiannya bertitel ‘’Spiritualitas Perempuan pada Era Post-Modern: Suatu Perspektif Internasional’’ menyebutkan, banyak peranan yang diambil tokoh gerakan perempuan.
Perjuangan dan gerakan perempuan itu termanifestasikan dalam banyak hal. Baik dengan menjadi guru (perjuangan melalui pendidikan), melawan tradisi demi emansipasi, sampai ikut terlibat melawan imperalisme kolonial yang seringkali melemahkan kedudukan kaum perempuan.
RA Kartini, adalah salah satu tokoh penting yang dimiliki Indonesia sebagai penyokong gerakan emansipasi, melalui pemikiran–pemikiran progresif di tengah lingkungan serta tradisi yang membelenggunya sebagai perempuan Jawa yang ketat dengan aturan.
Di balik tembok rumah orang tuanya di Mayong, Jepara, gagasan dan pemikiran-pemikiran adik kandung RMP Sosrokartono ini mampu menembus hingga daratan Eropa, yakni melalui korespondensi dengan Ny RM Abendanon dan Stella Zeehandelaar di Belanda.  

Generasi Emas
Sudah banyak buku dan hasil penelitian yang mengupas sosok, kiprah, dan pemikiran-pemikiran RA Kartini dari bergagai sudut pandang (perspektif) yang beragam. Namun pemikiran-pemikiran bagaimana agar perempuan maju dan terdidik, kiranya menjadi hal penting yang perlu diberi garis bawah tebal.
Pentingnya perempuan tumbuh menjadi pribadi yang cerdas dipandang penting bagi Kartini, karena kelak saat menjadi seorang ibu, ia akan menjadi pendidik yang pertama bagi anak-anak yang dilahirkannya sebelum duduk di bangku sekolah.
Dalam konteks kekinian, relasi perempuan kaitannya dengan pendidikan anak, menjadi perhatian tersendiri dari pemerintah. Perhatian itu diwujudkan dengan program Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang digalakkan.
Masyarakat juga ‘’menyambut’’ PAUD ini dengan antusias, dan telah memandang sebagai bagian penting dalam pendidikan anak-anaknya. Tak pelak, jumlah lembaga PAUD kian waktu pun kian bertambah.
Berdasarkan data di Dirjen PAUDNI Kemdikbud, per Desember 2013, jumlah lembaga PAUD mencapai 174.367 lembaga se-Indonesia. Yang terdiri atas 74.487 Taman Kanak-kanak, 70.477 Kelompok Bermain (KB), dan 26.269 Satuan PAUD. (www.setkab.go.id).
Lydia Freyani Hawadi, mengemukakan, pembangunan PAUD di Indonesia diarahkan secara bertahap menuju insan cerdas komprehensif pada 2045, sebagai kado 100 tahun Indonesia merdeka. Strategi menyiapkan insan cerdas menuju generasi emas ini dimulai pada 2011 melalui gerakan PAUD-isasi. (Kompas, 21 Oktober 2013).
Gerakan PAUD-isasi ini, menjadi fakta menarik yang digulirkan pemerintah, dalam rangka menyiapkan penerus bangsa yang cerdas dan berkarakter. Masyarakat pun semakin sadar akan pentingnya pendidikan bagi anak-anaknya sejak dini.
Yang menarik dari keberadaan PAUD, sebagian besar staf pengajarnya adalah perempuan. Meski penulis belum pernah menemukan data mengenai prosentase pendidik antara laki-laki dan perempuan di PAUD, namun sebatas pengetahuan yang ada, setiap PAUD yang penulis temui, hampir semua pengajarnya  memang perempuan.
Para perempuan (guru PAUD) inilah penerus cita-cita perjuangan RA Kartini yang telah banyak menyumbangkann tenaga dan pemikirannya bagi keberhasilan program pemerintah mencetak generasi emas Indonesia.
Spirit mencerdaskan generasi bangsa ini dan kiprah perempuan ini, adalah satu fakta menarik untuk direnungkan, betapa para perempuan, memiliki kontribusi yang sangat besar dalam menyiapkan anak-anak negeri yang cerdas dan berkarakter.
Kiprah dan peran dalam membangun pendidikan ini merupakan kontribusi yang sangat penting. Ki Hajar Dewantara sebagaimana ditulis Darsiti Soeratman (1986 : 71), menyampaikan, ‘’... pendidikan adalah tempat persemaian segala benih kebudayaan yang hidup dalam masyarakat kebangsaan’’. Dan untuk menyemainya, tentu harus dilakukan sedini mungkin, bukan? (*)