Blora, KabarPAUD – Bagi Anda
yang di Kabupaten Blora dan sekitarnya, tentu tidak asing dengan nama Pramoedya
Ananta Toer (Pram). Sastrawan besar yang sangat dihormati dan karyanya banyak
diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dunia.
Rumah
masa kecil Pram di Blora, tepatnya di ujung Jalan Sumbawa 40, Jetis, adalah penyimpan
‘’mutiara pengetahuan’’ yang ikut memberi citra positif bagi kabupaten paling
timur di Jawa Tengah tersebut di mata dunia ini, khususnya di bidang karya
sastra.
Penyimpan
mutiara pengetahuan itu adalah sebuah rumah yang kini dijadikan perpustakaan
oleh Soesilo Toer, adik kandung Pram. Perpustakaan itu diberinya nama Pramoedya
Ananta Toer Anak Semua Bangsa (PATABA). PATABA ini menarik berbagai kalangan
untuk datang. Tak hanya dari tanah air, melainkan banyak juga tamu yang berasal
dari luar negeri.
Dari
Indonesia, tokoh-tokoh yang pernah singgah di Pataba di antaranya Sindhunata,
Ajip Rosidi, Lilo Sunaryo, Djoko Pekik, FX Hoery, Gunawan Budi Susanto, Bowok
Kajangan, Babahe Leksono, Muhidin M Dahlan, Imam Bucah, Juwadi, Baskoro, dan
tokoh-tokoh dari berbagai komunitas dan lintas agama.
Adapun
tamu dari luar negeri yang menyempatkan diri berkunjung yaitu Dr Etienne Naveau
(Institut National des Langues et Civilisations Oriantales/Inalco, Perancis),
Prof Dr Koh Young Hun (Vice Chairman Korea Association of Malay-Indonesian
Studies, Seoul, Korea), serta rombongan mahasiswa dari berbagai negara seperti
Australia, Thailand, Jerman, Perancis, Italia, Jepang, Belgia, dan mahasiswa
Seminari Asia-Pasifik.
Tak
pelak. Keberadaan perpustakaan independen itu pun memberi citra positif bagi Kota
Satai tersebut. ‘’Misi saya mendirikan Pataba yang didukung teman-teman adalah
menciptakan masyarakat membangun, masyarakat membaca, dan masyarakat menulis,’’
tutur Soesilo Toer.
Di
perpustakaan inilah, sebagian karya Pram kini disimpan rapi oleh Soesilo Toer. Karya-karya
yang kebanyakan sudah langka di pasaran, seperti Hoakkiau di Indonesia,
Larasati, Cerita dari Digul, Cerita dari Blora, Sang Pemula, Percikan Revolusi,
Perburuan, Bukan Pasar Malam, Korupsi, dan Cerita dari Jakarta, ‘’Buku-buku
karya Pram saya taruh di sebuah lemari tersendiri di dalam, khawatir kalau
hilang,’’ katanya. (ANQ)
